
Di masa ini dimana demokrasi dijunjung tinggi masih saja hukum bisa dibeli. Memang tak mudah untuk membuktikannya. Tetapi itulah yang dicoba untuk diungkap oleh para wartawan yang kurang beruntung. Mereka harus meninggal terlebih dahulu tanpa pernah menemukan fakta yang sebenarnya. Memang hukum kepunyaan mereka orang – orang yang berduit.
Tengok saja sekarang perbedaan perlakuan dimata hukum antara si kaya dan si miskin. Bayangkan, gara – gara mencuri satu tandan pisang sepasang suami istri harus mendekam dipenjara selama tujuh tahun. Sedangkan mereka yang melakukan penggelapan dan korupsi hampir tidak tersentuh hukum. Walaupun sudah di hukum, namun didalampenjara mereka bisa seenaknya sendiri. Kita bisa saksikan beberapa saat lalu ada istana dalam penjara. Beginikah wajah hukum yang sebenarnya?
Kembali ke pokok bahasan awal yaitu mengenai wartawan yang harus mengalami penganiayaan bahkan pembunuhan disaat negara demokrasi ini coba dibangun. Sangat disayangkan, ada seorang wartawan yang mencoba mengungkapkan sebuah penggelapan dana di daerah Bantul, Jogjakarta. Namun ketika wartawan itu melakukan tugasnya dengan memberitakan kasus itu, yang terjadi adalah nyawa sebagai gantinya. Idealisme yang dibawa oleh si wartawan dalam mengungkap kasus penggelapan dana di kabupaten Bantul harus berakhir tragis.
Masih banyak lagi kisah yang memilukan terjadi di negara hukum seperti di indonesia ini. Seharusnya di Negara hukum seperti negara kita ini Hak Asasi Manusia dijamin. Hak – hak mengungkapkan kebenaran dijamin, namun apa yang terjadi adalah sebaliknya. Keseriusan dari pihak pemerintah harus serius dalam menangani kasus ini. Dan juga aparat hukum yang terkait dengan masalah ini. Tidak perlu pandang buluh terhadap hukum siapa yang salah harus ditindak sesuai ketentuan hukum yang berlaku.
Banyak jalan untuk mendapatkan kebenaran sejati. Mungkin inilah jalan yang mereka tempuh untuk mendapatkan kebenaran itu. Banyak diantara mereka rela mengesampingkan keselamatan diri dan keluarga hanya demi sebuah profesi. Yaitu untuk memberikan pencerahan kepada khalayak luas tentang sebuah kebenaran. Profesi itu mulia, profesi itu butuh pengorbanan yang besar. Butuh jiwa yang besar untuk menjadi seorang kuli tinta dan keluarga.
Tulisan ini terinspirasi dari tayangan kick andy, mengenai dibungkamnya kebebasan pers di era demokrasi ini.
Langganan:
Posting Komentar (Atom)

ini juga ya?? siilahkan..