
Menurut Aristoteles politik adalah usaha yang ditempuh warga negara untuk mewujudkan kebaikan bersama. Namun, kenyataannya sangat bertolak belakang dengan teori tadi. Memang benar tujuan politik adalah membuat kemajuan untuk semua orang tanpa terkecuali. Tapi ketika sampai pada tataran pelaksanaan tidak sesuai. Seperti kondisi saat ini, apa saja bisa digunakan sebagai alat untuk dipolitisasi. Bahkan orang yang apatis atau tidak peduli dengan keadaan (politik) sekitar bisa dijadikan alat untuk mendapatkan kekuasaan. Yah, wajar saja orang sering berujar bahwa politik itu kotor dan ujung - ujungnya mencari kekuasaan.
Seperti baru - baru ini pemira BEM dan Senat Mahasiswa seperti membeli kucing dalam karung itu yang saya alami. Pemilih tidak tahu siapa yang seharusnya dipilih, bahkan diantara mereka belum pernah melihat calon dan kenal secara baik. Saat saya maju menjadi calon senator, semua tampak dibaik - baikin, dibagus - bagusin. Pokoknya semua harus tampak sempurna, tanpa cela. Semula keadaan ini membuat tidak nyaman, namun apa daya lagi - lagi sistem yang membatasi saya.
Begitu juga ketika pemilu HMJ dan HMPS sama saja, tanpa mengurangi rasa hormat saya kepada calon ketua dan yang sudah terpilih inilah kenyataannya. Namun perlu digaris bawahi pemilu HMJ dan HMPS relatif tidak berbau intervensi dari organisasi ekstra, walaupun masih ada beberapa yang masih.
Tak hanya di kampus saja hal itu terjadi, melainkan di berbagai bidang. Banyak kasus yang terjadi akibat dari kecurangan oknum di Pemerintahan. Mulai dari isu suap, korupsi, pembunuhan, sampai kriminalisasi. Saya kembali mempertanyakan apakah benar moral orang - orang kita sudah separah itu? Tetapi banyak juga orang baik dinegeri ini. Lalu apakah politik = kekuasaan? Tentu saja jawabanya bisa ia bisa tidak. Tergantung individu yang melaksanakan. y2n
Langganan:
Posting Komentar (Atom)

Comments (0)
Posting Komentar